KABARJAWA- Gunung Merapi kembali menunjukkan tajinya. Raksasa api yang berdiri gagah di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta itu terus memproduksi lava, membentuk kubah raksasa yang kini volumenya kian mengkhawatirkan.
Data resmi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyebutkan, kubah lava Merapi kini berpotensi ambrol sewaktu-waktu dan menimbulkan awan panas mematikan.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menegaskan aktivitas vulkanik Merapi masih tinggi. Magma masih terus menyuplai dari dalam perut Merapi.
Ukuran Kubah Lava Gunung Merapi
“Kondisi ini membuat kubah lava di puncak semakin besar dan rawan roboh,” ujarnya dalam laporan aktivitas periode 15–21 Agustus 2025.
Hasil analisis udara terbaru memperlihatkan fakta mencengangkan. Kubah Barat Daya Merapi kini berukuran 4.101.500 meter kubik, sedangkan Kubah Tengah mencapai 2.369.900 meter kubik. Massa raksasa itu menggantung di bibir kawah, siap meluncur kapan saja ke lereng-lereng curam.
Meski perubahan morfologi pada kubah barat daya hanya terlihat sedikit, potensi guguran tetap besar. Apalagi sepanjang minggu lalu, Merapi mencatat 163 kali guguran lava, dengan arah dominan ke Kali Sat/Putih, Krasak, Bebeng, dan Boyong sejauh 2.000 meter.
Visual pengamatan pun menambah kecemasan. Pagi hingga malam Merapi tampak jelas dengan asap putih tipis hingga tebal yang naik setinggi 250 meter.
Saat siang hingga sore, kabut menutup wajah sang gunung, seolah menyembunyikan amarah yang sedang ia simpan.
Aktivitas Merapi
Alat pemantau kegempaan mencatat aktivitas Merapi masih intens. Dalam sepekan, Merapi mengguncang dengan 4 kali gempa Vulkanik Dangkal, 561 kali gempa Fase Banyak, 1 kali gempa Low Frequency, 709 kali gempa Guguran, serta 11 kali gempa Tektonik. Meski lebih rendah daripada pekan sebelumnya, data ini membuktikan isi perut Merapi belum tenang.
“Suplai magma masih aktif, sehingga awan panas guguran tetap bisa terjadi sewaktu-waktu,” jelas Agus Budi Santoso.
BPPTKG menetapkan status Merapi masih Siaga. Potensi bahaya nyata berada di sektor selatan–barat daya yang mencakup Sungai Boyong dengan radius 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh 7 kilometer.
Sementara itu, di sektor tenggara, ancaman meliputi Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh 5 kilometer.
Jika kubah ambrol dalam skala besar, lontaran material vulkanik bisa menjangkau radius 3 kilometer dari puncak. Lebih buruk lagi, hujan deras berpotensi memicu banjir lahar yang membawa material vulkanik menyapu perkampungan di bantaran sungai.
BPPTKG mengimbau masyarakat agar tidak beraktivitas di kawasan rawan bencana. Warga juga diminta selalu waspada terhadap ancaman awan panas, guguran lava, abu vulkanik, hingga bahaya lahar hujan.
“Kami minta pemerintah daerah segera meningkatkan kapasitas mitigasi dan menyiapkan sarana prasarana evakuasi. Jangan menunggu kubah lava ini benar-benar ambrol baru bergerak,” tegas Agus. (ef linangkung)
News
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.